DMN NEWS – Temanggung — Memasuki musim tanam tembakau tahun 2026, para petani di Kabupaten Temanggung kembali menghidupkan tradisi wiwit sebagai bentuk doa dan harapan akan hasil panen yang baik. Ritual ini dilaksanakan pada Rabu (29/4/2026) di kawasan lereng Gunung Sumbing, tepatnya di Desa Wonosari, Kecamatan Bulu.
Tradisi wiwit merupakan salah satu warisan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat petani tembakau. Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya masa tanam sekaligus bentuk ungkapan syukur atas kesempatan kembali mengolah lahan pertanian.
Dalam prosesi tersebut, para petani berkumpul dengan membawa berbagai perlengkapan sesaji. Isi sesaji umumnya berupa makanan tradisional, hasil bumi, serta simbol-simbol yang memiliki makna filosofis. Semua itu dipersembahkan sebagai bagian dari doa bersama kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Baca Juga: Sidang Vonis Sri Purnomo Digelar, Kasus Hibah Pariwisata Sleman Masuki Babak Penentuan Akhir
Ritual ini tidak hanya berisi ungkapan syukur, tetapi juga harapan agar tanaman tembakau yang akan ditanam dapat tumbuh subur, terhindar dari serangan hama, serta menghasilkan kualitas daun yang baik saat panen tiba.
Bagi masyarakat setempat, wiwit bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Nilai spiritual dan budaya yang terkandung di dalamnya menjadikan tradisi ini tetap lestari meskipun praktik pertanian terus berkembang dengan teknologi modern.
Selain aspek religius, wiwit juga memperkuat ikatan sosial antarpetani. Momentum ini dimanfaatkan untuk berkumpul, berbagi pengalaman, serta saling memberikan semangat dalam menghadapi musim tanam yang penuh tantangan.
Baca Juga: DPR Soroti 1.700 SPPG Disuspend, Minta BGN Tindak Tegas Korwil dan Perbaiki Pengawasan
Kebersamaan yang terbangun dalam tradisi ini mencerminkan semangat gotong royong yang masih kuat di tengah masyarakat pedesaan. Para petani menyadari bahwa keberhasilan pertanian tidak hanya ditentukan oleh usaha individu, tetapi juga kerja sama dan solidaritas.
Tradisi wiwit tembakau di Temanggung juga menunjukkan bagaimana masyarakat menjaga keseimbangan antara budaya, alam, dan aktivitas ekonomi. Dengan tetap melestarikan tradisi ini, para petani berharap musim tanam 2026 dapat membawa hasil yang maksimal sekaligus menjaga identitas budaya daerah.(*)