DMNNEWS – TEGAL — Inovasi dalam dunia pendidikan kembali lahir dari ruang kelas sekolah dasar. Seorang guru di SD Negeri Danawarih 03 menghadirkan metode pembelajaran unik yang membuat siswa lebih mudah memahami materi, khususnya terkait isu pencemaran lingkungan.
Guru tersebut adalah Juni Tri Setiyono, yang mengembangkan model pembelajaran bernama Eco-Rotation. Metode ini merupakan hasil modifikasi dari pendekatan Station Rotation atau rotasi stasiun, yang selama ini dikenal dalam pembelajaran berbasis aktivitas.
Berbeda dengan metode konvensional yang cenderung monoton di dalam kelas, Eco-Rotation mengajak siswa untuk belajar melalui pengalaman langsung. Pendekatan ini dirancang agar siswa tidak hanya menerima materi secara teori, tetapi juga memahami konsep melalui praktik nyata di lingkungan sekitar.
Baca Juga: Tol Jogja–Solo Trihanggo–Junction Sleman Dikebut, Progres 79 Persen Target Operasi Oktober 2026
“Melalui metode ini, siswa bisa melihat langsung bagaimana pencemaran lingkungan terjadi, sehingga pemahaman mereka menjadi lebih kuat,” jelas Juni, Senin (27/4/2026).
Dalam pelaksanaannya, metode Eco-Rotation dibagi menjadi tiga stasiun pembelajaran. Setiap stasiun memiliki pendekatan berbeda namun saling melengkapi. Stasiun pertama memanfaatkan papan interaktif digital untuk menyampaikan materi secara visual.
Stasiun kedua menggunakan laptop sebagai media eksplorasi informasi. Sementara stasiun ketiga mengajak siswa terjun langsung mengamati kondisi lingkungan sekitar sekolah.
Baca Juga: Menkop Ferry: Koperasi Jadi Pilar Ekonomi Pancasila, Dorong Kemandirian dan Keadilan Sosial
Salah satu lokasi observasi yang dipilih adalah aliran sungai atau selokan di depan sekolah yang tercemar sampah. Dari hasil pengamatan tersebut, siswa kemudian diminta menuangkan temuan mereka dalam bentuk poster sebagai bentuk refleksi dan pemahaman.
Metode ini diterapkan khusus untuk siswa kelas 5 dalam mata pelajaran IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial), yang pada semester ini membahas topik pencemaran udara, air, dan tanah.
Selama proses pembelajaran, siswa dibagi ke dalam tiga kelompok. Setiap kelompok akan bergiliran mengunjungi ketiga stasiun tersebut dengan durasi sekitar 10 menit per sesi. Pola rotasi ini memungkinkan seluruh siswa merasakan pengalaman belajar yang sama secara merata.
Baca Juga: Resepsi El Rumi–Syifa Hadju Dihadiri Presiden dan Menteri, Jadi Momen Silaturahmi Nasional
Hasilnya, suasana belajar menjadi lebih hidup dan interaktif. Siswa terlihat lebih antusias mengikuti setiap tahapan pembelajaran. Mereka tidak hanya aktif berdiskusi, tetapi juga lebih kritis dalam mengamati permasalahan lingkungan di sekitar mereka.
Menurut Juni, pendekatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa. Anak-anak tidak hanya mengetahui definisi pencemaran, tetapi juga mampu mengidentifikasi penyebab dan dampaknya secara nyata.
“Anak-anak jadi lebih peka terhadap lingkungan. Mereka bisa melihat langsung masalah yang ada dan memahami dampaknya bagi kehidupan,” tambahnya.
Baca Juga: Laris 500 Mangkuk Sehari Diserbu Pelintas Jalan Raya, Es Dawet Kang Siput Magelang Legendaris
Selain itu, metode ini juga mendorong keterampilan kolaborasi dan komunikasi antar siswa. Dalam setiap stasiun, mereka dituntut untuk bekerja sama, berbagi ide, serta menyampaikan hasil pengamatan secara sistematis.
Inovasi seperti Eco-Rotation menjadi contoh bahwa pembelajaran di tingkat dasar dapat dikembangkan secara kreatif dan kontekstual. Dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran terhadap isu-isu penting sejak dini.
Ke depan, metode ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi para pendidik lainnya untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik, relevan, dan berdampak langsung bagi siswa.(*)