DMN NEWS - BOYOLALI - Di sebuah sudut sederhana di Boyolali, Jawa Tengah, hidup seorang ayah yang tak pernah benar-benar berhenti berharap. Namanya Sarjo, 50 tahun. Sehari-hari, ia mengais rezeki dari barang-barang yang dibuang orang lain—botol plastik, kaleng bekas, hingga kertas yang masih bisa dijual kembali.

Tak jarang, ia juga berkeliling menjajakan pakaian bekas demi menambah penghasilan. Namun kerasnya hidup membuat pemasukan yang ia dapat tak pernah pasti. Di tengah keterbatasan itu, Sarjo harus menanggung kebutuhan lima orang anak.

Di titik itulah, kenyataan pahit sempat mematahkan satu mimpi dalam keluarganya.

Baca Juga: Tren Lifestyle 2026: Pentingnya Work-Life Balance dan Kesehatan Mental

Salah satu anaknya terpaksa berhenti sekolah selama satu tahun. Bukan karena malas, bukan pula karena tak ingin belajar. Tapi karena keadaan. Biaya pendidikan yang bagi sebagian orang terasa biasa, menjadi beban berat yang tak mampu ia pikul.

Bagi Sarjo, itu bukan sekadar berhentinya sekolah. Itu seperti melihat masa depan anaknya perlahan meredup.

Namun hidup kadang menyimpan jalan tak terduga.

Harapan itu datang ketika ia dikenalkan pada program Sekolah Rakyat melalui pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). Program yang merupakan bagian dari kebijakan pemerintah di bawah Prabowo Subianto ini membuka kembali pintu yang sempat tertutup bagi anaknya.

Baca Juga: Harga Pertamax Terancam Naik, Bahlil Buka Skenario Penyesuaian BBM Nonsubsidi Ikuti Dunia

Kini, sang anak—Syifa—bisa kembali mengenakan seragam, kembali duduk di bangku sekolah, dan kembali bermimpi.

“Alhamdulillah… anak saya bisa sekolah lagi,” ucap Sarjo dengan suara yang tak bisa sepenuhnya menyembunyikan rasa harunya.

Bagi seorang ayah yang terbiasa menahan lelah dan lapar, melihat anaknya kembali belajar adalah kebahagiaan yang sulit digambarkan dengan kata-kata.

Ia tak muluk-muluk. Saat ditanya soal cita-cita anaknya, Sarjo hanya tersenyum sederhana.

“Katanya mau jadi dokter. Kalau saya, yang penting dia sekolah dulu. Soal nanti jadi apa, saya serahkan ke dia,” katanya.

Baca Juga: Polri Siap Jerat Mafia BBM Subsidi dengan TPPU dan Korupsi, Aktor Besar Jadi Target Utama

Kalimat itu mungkin terdengar biasa. Tapi di baliknya, ada keikhlasan dan cinta yang dalam—tentang orang tua yang tak memaksakan mimpi, tapi memberi ruang anaknya untuk menentukan jalan hidup sendiri.

Program Sekolah Rakyat yang diikuti anaknya tak hanya memberikan akses pendidikan. Lebih dari itu, seluruh kebutuhan dasar seperti tempat tinggal, makan, hingga perlengkapan belajar juga ditanggung.

Bagi Sarjo, ini bukan sekadar bantuan. Ini adalah penyelamat.

Kini ia tak lagi dihantui kecemasan soal biaya. Ia tak perlu lagi memilih antara makan hari ini atau biaya sekolah anak. Perannya kembali sederhana, tapi penuh makna: menjadi ayah yang mendukung dan mendoakan.

“Saya cuma bisa kasih doa. Selebihnya sudah dibantu semua,” ujarnya lirih.

Baca Juga: Giant Sea Wall Dikebut Bertahap, Pantura Jadi Prioritas Awal Hadapi Ancaman Laut Meninggi

Di tengah segala keterbatasan, kisah Sarjo menjadi pengingat bahwa pendidikan masih menjadi jembatan paling kuat untuk mengubah nasib. Dan kadang, yang dibutuhkan hanyalah satu kesempatan untuk kembali berdiri.

Kini, di rumah kecil itu, harapan yang sempat hampir padam kembali menyala. Tidak besar, tidak berisik, tapi cukup terang untuk menerangi masa depan.(*)