DMN NEWS - JAKARTA — Dini hari yang seharusnya tenang di kawasan Pulo Gebang, Cakung, Jakarta Timur, mendadak berubah menjadi kepanikan. Kobaran api melahap sebuah gudang di Jalan Komarudin Lama, Selasa (21/4/2026), memaksa warga terbangun dalam kondisi setengah sadar.
Bukan sirene atau alarm kebakaran yang pertama kali memberi peringatan, melainkan suara dari pengeras masjid. Seorang marbut yang melihat asap hitam pekat membumbung di kejauhan langsung bertindak cepat. Tanpa menunggu konfirmasi, ia mengumumkan peringatan melalui pengeras suara.
Suara itu memecah sunyi, mengguncang permukiman yang masih terlelap. Dalam hitungan menit, warga keluar rumah dengan wajah panik. Ada yang berusaha mendekat untuk memastikan kondisi, ada pula yang memilih menjauh demi menyelamatkan diri.
Baca Juga: Kontes Sapi Piala Ketua MPR RI di Wonosobo, Peternak Siap Tampil Adu Kualitas Unggulan Nasional
Situasi yang semula hening berubah menjadi riuh. Kekhawatiran merambat cepat, seiring api yang terus membesar.
Laporan kebakaran diterima melalui layanan darurat Jakarta Siaga 112 sekitar pukul 04.05 WIB. Respons petugas terbilang cepat. Hanya berselang beberapa menit, tepat pukul 04.11 WIB, tim pemadam sudah tiba di lokasi.
Sebanyak 80 personel dari Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Timur langsung dikerahkan. Mereka datang dengan 15 unit mobil pemadam, menghadapi kobaran api yang sudah terlanjur membesar.
Baca Juga: Festival Seni Pulosaren Wonosobo Dongkrak Wisata Budaya, Disiapkan Jadi Event Kreatif Kekinian
Upaya pemadaman dimulai sekitar pukul 04.12 WIB. Namun kondisi di lapangan tidak mudah. Material yang tersimpan di dalam gudang diduga mudah terbakar, membuat api cepat menjalar dan sulit dikendalikan.
Petugas harus berpacu dengan waktu. Setiap menit menjadi krusial, karena api berpotensi merambat ke bangunan lain di sekitarnya.
Setelah hampir setengah jam berjibaku, titik terang akhirnya muncul. Pada pukul 04.46 WIB, api berhasil dilokalisasi. Ini menjadi momen penting, karena penyebaran api berhasil dihentikan sebelum meluas ke area permukiman.
Baca Juga: Dua Hari Pencarian, Remaja Korban Laka Laut Parangtritis Ditemukan Tak Bernyawa
Tak lama berselang, sekitar pukul 04.58 WIB, kobaran api berhasil dipadamkan sepenuhnya. Meski demikian, petugas tidak langsung meninggalkan lokasi.
Proses pendinginan terus dilakukan hingga pukul 06.45 WIB. Langkah ini penting untuk memastikan tidak ada bara api yang tersisa dan berpotensi memicu kebakaran susulan.
Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa ini. Namun, rasa cemas dan trauma sempat membekas di benak warga yang menyaksikan langsung kejadian tersebut.
Baca Juga: Respons Santai Joko Widodo soal Ketegangan dengan Jusuf Kalla : 'Saya orang kampung'
Bagi mereka, momen itu bukan sekadar kebakaran biasa. Itu adalah pengalaman yang datang tiba-tiba, memaksa mereka berhadapan dengan situasi darurat tanpa persiapan.
Hingga kini, penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penyelidikan. Sementara itu, nilai kerugian materiil juga masih dihitung oleh pihak berwenang.
Pihak pemadam kebakaran mengingatkan pentingnya kewaspadaan, terutama bagi pemilik gudang atau bangunan yang menyimpan bahan mudah terbakar. Sistem pengamanan dan deteksi dini dinilai menjadi faktor penting untuk mencegah kejadian serupa.
Baca Juga: Kampus Tak Lagi Aman? Kasus Kekerasan Seksual Naik, Rektor Kini Ikut Disorot
Peristiwa ini menjadi pengingat keras bahwa kebakaran tidak pernah datang dengan tanda yang pasti. Ia bisa muncul kapan saja — bahkan di saat sebagian besar orang masih tertidur lelap.
Dan ketika itu terjadi, yang tersisa hanyalah waktu untuk bertindak — atau menyesal kemudian.(*)