DMN NEWS - JAKARTA — Harga minyak dunia kembali menunjukkan tren penguatan pada Kamis (23/4/2026), didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik serta mandeknya proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Berdasarkan laporan Reuters, harga minyak mentah Brent naik sebesar 1,4% atau US$1,47 menjadi US$103,38 per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan sebesar 1,5% ke level US$94,36 per barel.

Kenaikan harga ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap terganggunya pasokan energi global, khususnya akibat perkembangan situasi di kawasan Timur Tengah. Salah satu faktor utama adalah terhentinya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang sebelumnya diharapkan dapat meredakan ketegangan.

Baca Juga: Tumpukan Sampah TPS3R Tamanagung Teratasi, DLH dan Desa Akhiri Miskomunikasi

Analis pasar energi dari SEB, Bjarne Schieldrop, menyebut bahwa pelaku pasar kini mulai mengubah ekspektasi terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat.

“Pasar kini melihat peluang kesepakatan dalam waktu dekat semakin kecil. Hal ini membuat harga minyak berpotensi terus bergerak naik,” ujarnya.

Selain faktor diplomatik, situasi di lapangan juga memperburuk kondisi. Iran dilaporkan menyita dua kapal di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia.

Baca Juga: Perkuat Kerja Sama Strategis,Prabowo dan PM Australia Bahas Ekspor Urea 250 Ribu Ton

Selat ini diketahui menyuplai sekitar 20% kebutuhan minyak global, sehingga setiap gangguan di kawasan tersebut langsung berdampak pada pasar energi internasional.

Ketegangan semakin meningkat meskipun mantan Presiden AS Donald Trump disebut telah memperpanjang gencatan senjata atas permintaan mediator dari Pakistan. Namun demikian, pembatasan lalu lintas kapal di kawasan tersebut masih terus berlangsung.

Pemerintah Amerika Serikat juga dilaporkan tetap mempertahankan blokade laut terhadap aktivitas perdagangan Iran. Bahkan, militer AS disebut telah mencegat sejumlah kapal tanker berbendera Iran di berbagai jalur strategis.

Baca Juga: Ekonomi Kayong Utara Melonjak 5,89 Persen, PSN Pulau Penebang Beri Dampak Nyata

Beberapa lokasi pencegatan dilaporkan terjadi di perairan Asia, termasuk di jalur dekat India, Malaysia, dan Sri Lanka. Kondisi ini semakin memperketat distribusi minyak global dan meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan.

Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, Amerika Serikat justru mencatatkan kinerja ekspor energi yang kuat. Total ekspor minyak mentah dan produk turunannya dilaporkan mencapai 12,88 juta barel per hari, mencetak rekor baru.

Menurut Schieldrop, tingginya permintaan dari kawasan Asia dan Eropa menjadi faktor utama yang menopang peningkatan ekspor tersebut, meskipun situasi geopolitik sedang tidak stabil.

“Permintaan dari Asia dan Eropa masih tinggi, sehingga ekspor AS tetap meningkat meski kondisi geopolitik memanas,” tambahnya.

Baca Juga: Pemdes Karangrejo Bidik Proklim Lestari 2026, Gerakan Hijau Diperluas hingga 14 Desa Borobudur

Kenaikan harga minyak ini berpotensi memberikan dampak luas terhadap perekonomian global, termasuk tekanan terhadap inflasi dan biaya energi di berbagai negara. Negara-negara importir minyak diperkirakan akan menghadapi tantangan tambahan dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik.

Ke depan, arah pergerakan harga minyak dunia akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi geopolitik serta stabilitas di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi global.(*)