DMN NEWS - BANTUL – Upaya menjaga napas panjang industri batik kini tidak lagi hanya soal motif dan pasar, tetapi juga soal lingkungan. Indonesia Financial Group (IFG) mengambil langkah nyata dengan menghadirkan fasilitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di sentra Nayantaka Batik, Bantul.

Langkah ini bukan sekadar proyek infrastruktur, tetapi bagian dari dorongan besar menuju industri batik yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Selama ini, limbah cair menjadi persoalan laten di sektor batik. Proses produksi yang melibatkan bahan kimia berpotensi mencemari lingkungan jika tidak diolah dengan baik. Di titik inilah peran IPAL menjadi krusial.

Baca Juga: Bus DAMRI Jogja–YIA Kembali Normal, Akses Bandara Makin Mudah dengan Jadwal Teratur

IPAL bekerja melalui serangkaian proses—fisika, kimia, hingga biologis—untuk menyaring zat pencemar sebelum air limbah dilepas ke lingkungan. Kandungan berbahaya seperti Total Suspended Solid (TSS), Total Dissolved Solid (TDS), fenol, serta minyak dan lemak ditekan hingga batas aman.

Hasilnya tidak sekadar teori. Fasilitas yang dibangun IFG ini mampu menurunkan lebih dari 90 persen kadar pencemar limbah batik. Angka yang tidak kecil untuk ukuran industri rumahan hingga skala UMKM.

Sekretaris Perusahaan IFG, Denny S Adji, menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan dalam mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam aktivitas nyata di lapangan.

Baca Juga: Kloter Perdana Haji 2026 Berangkat dari Soetta, 393 Jemaah Awali Perjalanan ke Madinah

Menurutnya, pendekatan yang diambil tidak hanya menyasar persoalan lingkungan, tetapi juga nilai ekonomi bagi pelaku usaha.

“Kami ingin memastikan bahwa pelaku batik tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dengan cara yang lebih bersih dan efisien,” ujarnya.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang kini menjadi standar global dalam pengelolaan bisnis modern.

Namun yang menarik, program ini tidak berjalan sendiri. IFG menggandeng sejumlah anggota holding seperti PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), PT Jasa Raharja, PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo), serta PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo).

Baca Juga: Kisah Kyra, Calon Haji Termuda Magelang yang Gantikan Ayahnya Berangkat ke Tanah Suci

Kolaborasi ini juga diperkuat oleh peran Yayasan Inspirasi Anak Bangsa dan dukungan pemerintah daerah. Sinergi lintas sektor ini menjadi kunci dalam memastikan program berjalan efektif dan berkelanjutan.

Dampaknya mulai terasa. Tidak hanya kualitas lingkungan yang membaik, tetapi juga daya saing pelaku UMKM batik ikut terdongkrak. Produk yang dihasilkan kini memiliki nilai tambah karena memenuhi standar produksi ramah lingkungan—sebuah aspek yang semakin diperhatikan pasar.

Lebih dari itu, program ini juga mengubah cara pandang. Pelaku usaha tidak lagi melihat pengolahan limbah sebagai beban, melainkan sebagai bagian dari proses produksi yang tak terpisahkan.

Baca Juga: BRI Insurance Gandeng IMI, Hadirkan Asuransi Kecelakaan Diri untuk Puluhan Ribu Anggota

Pendampingan dan peningkatan kapasitas menjadi bagian penting dalam implementasi program ini. IFG tidak hanya membangun fasilitas, tetapi juga memastikan penggunaannya berjalan optimal dalam jangka panjang.

Ke depan, model seperti ini diharapkan tidak berhenti di Bantul. Replikasi di berbagai sentra batik nasional menjadi target berikutnya, mengingat tantangan serupa juga dihadapi daerah lain.

Jika dijalankan secara konsisten, pendekatan ini bisa menjadi fondasi baru bagi industri batik Indonesia—tetap kuat secara budaya, tetapi juga adaptif terhadap tuntutan zaman.

Baca Juga: Ditahan Vietnam Tanpa Gol, Timnas U17 Indonesia Tersingkir dan Gagal Lolos ke Semifinal

Di tengah tekanan global terhadap isu lingkungan, langkah seperti ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Dan dari Bantul, sebuah pesan sederhana mulai menguat: menjaga tradisi tidak harus mengorbankan masa depan lingkungan.(*)