DMN NEWS - JAKARTA – Kinerja investasi hilirisasi Indonesia pada triwulan I 2026 menunjukkan tren positif dengan capaian sebesar Rp147,5 triliun. Nilai tersebut tumbuh 8,2% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang sebesar Rp136,3 triliun.
Data tersebut disampaikan Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sebagai bagian dari laporan realisasi investasi nasional. Investasi hilirisasi ini menyumbang sekitar 29,6% dari total realisasi investasi Indonesia pada triwulan I 2026 yang mencapai Rp498,8 triliun.
Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani menyatakan bahwa kontribusi sektor hilirisasi semakin signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menilai tren ini berpotensi terus meningkat seiring dengan konsistensi kebijakan hilirisasi yang dijalankan pemerintah.
Baca Juga: Realisasi Investasi RI Triwulan I 2026 Capai Rp498,8 Triliun, Singapura Masih Terbesar
“Kontribusi investasi dari sektor yang berhubungan dengan hilirisasi cukup signifikan dan dapat terus meningkat ke depan,” ujar Rosan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Secara rinci, dari total Rp147,5 triliun investasi hilirisasi tersebut, sektor mineral mendominasi dengan nilai mencapai Rp98,3 triliun. Sektor ini menjadi tulang punggung program hilirisasi nasional yang difokuskan pada peningkatan nilai tambah sumber daya alam.
Komoditas nikel menjadi kontributor terbesar dalam hilirisasi mineral dengan nilai investasi Rp41,5 triliun. Selanjutnya disusul tembaga sebesar Rp20,7 triliun, besi dan baja Rp17,0 triliun, serta bauksit Rp13,7 triliun. Selain itu, timah menyumbang Rp2,5 triliun dan komoditas mineral lainnya sebesar Rp2,9 triliun.
Baca Juga: Investasi Kereta Gantung Prambanan Rp200 Miliar Diuji, Tata Ruang dan Cagar Budaya Jadi Sorotan
Selain sektor mineral, hilirisasi pada sektor perkebunan dan kehutanan juga mencatatkan kontribusi yang cukup besar, yakni Rp29,8 triliun. Dalam sektor ini, komoditas kelapa sawit menjadi penyumbang utama dengan nilai Rp18,3 triliun, diikuti kayu log Rp7,0 triliun dan karet Rp2,4 triliun. Sementara komoditas lainnya menyumbang Rp2,1 triliun.
Pemerintah berharap investasi di sektor perkebunan dan kehutanan dapat terus meningkat guna memperluas dampak hilirisasi ke berbagai sektor non-mineral. Upaya ini dinilai penting untuk memperkuat diversifikasi ekonomi nasional.
Di sektor energi, hilirisasi minyak dan gas bumi (migas) mencatatkan realisasi investasi sebesar Rp17,7 triliun. Rinciannya terdiri dari minyak bumi sebesar Rp13,6 triliun dan gas bumi Rp4,1 triliun. Sektor ini juga memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional.
Baca Juga: Dua Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, Diplomasi RI ke Iran Diuji di Tengah Ketegangan
Sementara itu, hilirisasi di sektor perikanan dan kelautan masih relatif kecil dengan nilai Rp1,7 triliun. Namun demikian, sektor ini memiliki potensi besar untuk berkembang, terutama pada komoditas seperti garam, ikan tuna, cakalang, tongkol, udang, rumput laut, rajungan, dan tilapia.
Rosan optimistis bahwa investasi di sektor perikanan dan kelautan akan mengalami peningkatan pada semester berikutnya, seiring dengan berbagai kebijakan penguatan sektor maritim yang tengah didorong pemerintah.
Dari sisi distribusi wilayah, mayoritas investasi hilirisasi masih terpusat di luar Pulau Jawa dengan porsi mencapai 75,5% atau sekitar Rp111,4 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan hilirisasi turut mendorong pemerataan pembangunan ekonomi di berbagai daerah.
Baca Juga: Di Tengah Polemik Pernyataan JK, Gibran Tegaskan Sosok Jusuf Kalla Tetap Mentor dan Idola
Beberapa provinsi menjadi pusat utama investasi hilirisasi, di antaranya Sulawesi Tenggara dengan nilai Rp24,1 triliun, Maluku Utara Rp18,6 triliun, Jawa Barat Rp13,0 triliun, Nusa Tenggara Barat Rp12,9 triliun, serta Kepulauan Riau sebesar Rp9,6 triliun.
Capaian ini memperlihatkan bahwa wilayah berbasis sumber daya alam, khususnya di kawasan timur Indonesia, semakin menarik bagi investor dalam pengembangan industri hilir.
Pemerintah menegaskan akan terus memperkuat kebijakan hilirisasi sebagai strategi utama dalam meningkatkan nilai tambah komoditas nasional. Selain itu, peningkatan infrastruktur, kemudahan perizinan, serta kepastian hukum juga terus diupayakan untuk menjaga iklim investasi tetap kondusif.
Dengan pertumbuhan yang konsisten dan kontribusi yang semakin besar, investasi hilirisasi diharapkan menjadi motor utama dalam mendorong transformasi ekonomi Indonesia menuju industri bernilai tambah tinggi dan berdaya saing global.(*)