DMNNEWS — Pagi itu, seperti hari-hari sebelumnya, seorang nenek tua mengayuh sepeda pelan menyusuri jalan menuju pasar. Tak banyak yang tahu, dari langkah sederhana itulah tersimpan mimpi besar yang ia jaga selama puluhan tahun.
Adalah Kasidah (75), seorang penjual tempe asal Kapanewon Panjatan, Kabupaten Kulon Progo, yang akhirnya mampu mewujudkan impian besarnya: menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.
Perjalanan itu bukan sesuatu yang instan. Butuh waktu sekitar 20 tahun bagi Kasidah untuk mengumpulkan biaya, sedikit demi sedikit, dari hasil jualan tempe yang ia tekuni setiap hari.
Dengan penghasilan yang tak menentu, berkisar antara Rp10 ribu hingga Rp100 ribu per hari, ia tetap disiplin menyisihkan sebagian uangnya. Bagi sebagian orang, nominal itu mungkin terasa kecil. Namun bagi Kasidah, setiap rupiah memiliki arti besar.
Rutinitasnya pun tak mudah. Di usia yang sudah lanjut, ia masih setia mengayuh sepeda sejauh kurang lebih satu kilometer dari rumah menuju pasar tradisional. Tak ada keluhan, hanya tekad yang terus ia pegang.
Keinginan untuk berangkat haji menjadi alasan utama yang membuatnya tetap bertahan. Ia percaya, selama terus berusaha, jalan itu suatu saat akan terbuka.
Selain berdagang, Kasidah juga mengandalkan hasil sawah miliknya yang kini dikelola oleh anak-anaknya. Dukungan keluarga menjadi kekuatan tambahan dalam perjalanan panjangnya.
Ia tercatat mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji sejak tahun 2012. Namun, harapan untuk segera berangkat sempat tertunda akibat pandemi Covid-19 yang melanda dunia.
Penantian panjang itu akhirnya menemukan titik terang. Kasidah dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada 21 April 2026 melalui Bandara Internasional Yogyakarta, bersama kloter pertama embarkasi Yogyakarta.
Bagi keluarganya, momen ini bukan sekadar perjalanan ibadah, tetapi juga buah dari kerja keras dan kesabaran yang tak pernah putus. Anak, menantu, hingga cucunya turut ambil bagian, membantu dan mendukung dengan cara mereka masing-masing.
Kisah Kasidah perlahan menyebar dan menyentuh banyak orang. Di tengah kehidupan yang serba cepat, perjuangannya menjadi pengingat bahwa mimpi besar tidak selalu lahir dari kemudahan, melainkan dari ketekunan yang dijaga setiap hari.
Apa yang dilakukan Kasidah mungkin terlihat sederhana—menabung dari hasil jualan kecil. Namun di balik itu, ada konsistensi, pengorbanan, dan keyakinan yang tak tergoyahkan.
Kini, setelah lebih dari dua dekade menunggu, langkah kecil yang dulu ia tempuh setiap pagi akhirnya mengantarkannya menuju perjalanan besar dalam hidupnya.
Dan bagi banyak orang, kisah ini bukan hanya tentang haji, tetapi tentang harapan yang tidak pernah benar-benar hilang.(*)