DMNNEWS.COM - CILACAP – Masyarakat Cilacap bagian barat kembali merawat tradisi Sedekah Kupat yang digelar menjelang hingga Rabu Wekasan. Rangkaian kegiatan berlangsung di sejumlah wilayah dan mempertemukan masyarakat dari kawasan perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Tradisi tersebut tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan. Sedekah Kupat juga menjadi ruang bagi warga untuk memperkuat kebersamaan melalui prosesi berbagi, kesenian tradisional, dan keterlibatan masyarakat lintas wilayah.
Rangkaian kegiatan diawali pada Minggu di Dusun Kamuning, Desa Matenggeng, Kecamatan Dayeuhluhur. Salah satu prosesi yang digelar adalah nyuguh nyalar di tepi Sungai Cijolang, yang menjadi batas antara Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Muda pada Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Cilacap, Ida Farida, menjelaskan prosesi nyuguh dilakukan Kampung Adat Kuta, Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis.
Sementara prosesi nyalar berupa pengambilan ketupat dilakukan masyarakat Dusun Kamuning. Ketupat yang disedekahkan terlebih dahulu digantung pada palang gantar berbahan bambu.
“Yang bersedekah sebaiknya tidak mengambil lagi ketupat yang sudah disedekahkan. Yang mengambil itu tamu, orang yang lewat, atau dari desa seberangnya,” kata Ida, Kamis (13/8/2026).
Tutunggulan Lesung Meriahkan Babarit Kupat
Rangkaian tradisi berlanjut pada Senin pagi melalui babarit kupat di Dusun Sikluk, Desa Matenggeng.
Suasana semakin semarak dengan pertunjukan seni tutunggulan atau koteakan lesung yang dimainkan kaum ibu. Kesenian tersebut diiringi lagu-lagu berbahasa Sunda yang membawa pesan tentang semangat gotong royong.
Kegiatan berikutnya berlangsung pada Selasa sore di Dusun Sogati, Desa Wanareja, Kecamatan Wanareja. Prosesi digelar di jembatan yang menjadi batas antara Sogati dan Naroknok.
Rangkaian kegiatan yang berpindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya menunjukkan bahwa Sedekah Kupat tidak berdiri sendiri sebagai tradisi sebuah desa. Ada keterlibatan masyarakat dari kawasan yang memiliki hubungan sosial dan budaya meski berada di wilayah administratif berbeda.
Puncak Sedekah Kupat pada Rabu Wekasan
Puncak tradisi berlangsung pada Rabu Wekasan, yang dimaknai sebagai Rabu terakhir bulan Safar.
Kegiatan dimulai sejak pagi di Dusun Sukaharja dan Dusun Sukanagara, Desa Hanum, Kecamatan Dayeuhluhur. Kedua wilayah tersebut berbatasan langsung dengan Dusun Gunung Gelis, Desa Tambaksari, Kecamatan Wanareja, di kawasan Hutan Mayangkara.
Rangkaian kemudian bergerak ke Dusun Limbangan Luhur, Desa Salebu. Prosesi berlanjut hingga Desa Cibenying, Kecamatan Majenang, pada Rabu sore.
Perayaan budaya selanjutnya ditutup melalui Festival Sedekah Kupat Tambaksari yang berlangsung hingga malam hari.
Selain prosesi menggantungkan ketupat pada pagi hari, festival tersebut juga menghadirkan sejumlah pertunjukan seni. Salah satunya adalah tayuban dengan panggung hiburan yang dipusatkan di Lapangan Desa Wisata Tambaksari.
Sedekah Kupat Rawat Budaya Perbatasan
Sedekah Kupat menjadi salah satu tradisi yang memperlihatkan kuatnya hubungan masyarakat di wilayah barat Cilacap dengan komunitas di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Nilai berbagi tercermin dalam prosesi ketupat yang telah disedekahkan. Warga yang memberikan ketupat tidak mengambil kembali makanan tersebut, melainkan membiarkannya diambil oleh tamu, orang yang melintas, atau masyarakat dari wilayah seberang.
Di sisi lain, keterlibatan kesenian tradisional memperkuat fungsi tradisi sebagai ruang pewarisan budaya. Generasi muda dapat mengenal kembali berbagai bentuk kesenian dan kebiasaan masyarakat yang telah berlangsung dari waktu ke waktu.
Bagi masyarakat Cilacap barat, Sedekah Kupat akhirnya tidak hanya menjadi perayaan menjelang Rabu Wekasan. Tradisi ini juga menjadi momentum untuk menjaga kebersamaan, merawat kesenian lokal, dan mempererat hubungan warga di kawasan perbatasan.***