DMNNEWS.COM – JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan komitmennya memperkuat riset dan inovasi di berbagai bidang teknologi strategis sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan. Fokus pengembangan diarahkan pada teknologi semikonduktor, kecerdasan artifisial (AI), genomik, kuantum, nuklir, hingga antariksa.

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan penguasaan teknologi maju menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing Indonesia dalam dua hingga tiga dekade mendatang. Menurutnya, negara yang memiliki kapasitas inovasi tinggi cenderung menikmati tingkat kesejahteraan ekonomi yang lebih baik.

Arif mengungkapkan, berbagai indikator global menunjukkan hubungan erat antara kemampuan inovasi suatu negara dengan tingkat pendapatan masyarakatnya. Pada Global Innovation Index (GII) 2025, misalnya, peringkat teratas masih didominasi negara-negara maju seperti Swiss, Swedia, Amerika Serikat, dan Korea Selatan yang memiliki produk domestik bruto (PDB) per kapita tinggi.

"Riset dan inovasi merupakan lokomotif pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sekaligus fondasi daya saing Indonesia di masa depan," ujar Arif di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8/2026).

Semikonduktor dan AI Jadi Prioritas

Sebagai bagian dari strategi tersebut, BRIN memprioritaskan pengembangan teknologi semikonduktor agar Indonesia mampu mengurangi ketergantungan terhadap pasokan chip dari luar negeri. Penguasaan teknologi ini dinilai sangat penting karena semikonduktor menjadi komponen utama dalam berbagai perangkat elektronik dan industri digital.

Selain itu, kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) juga menjadi salah satu fokus utama riset. BRIN menilai AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan produktivitas berbagai sektor, mulai dari industri hingga pelayanan publik.

Salah satu implementasi teknologi AI telah diterapkan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui inovasi Food Guard, perangkat pintar yang dipasang pada wadah makanan untuk memantau kualitas makanan selama proses distribusi.

Arif menjelaskan, inovasi BRIN dalam program MBG tidak hanya terbatas pada sistem pemantauan, tetapi mencakup seluruh rantai ekosistem penyediaan makanan.

"BRIN membangun inovasi di seluruh rantai ekosistem MBG, mulai dari bahan pangan, mesin pengolahan, pengemasan, deteksi halal, distribusi, hingga sistem monitoring berbasis AI," jelasnya.

Kembangkan Genomik hingga Teknologi Kuantum

Selain AI dan semikonduktor, BRIN juga memprioritaskan pengembangan teknologi genomik. Riset ini diharapkan mampu mendukung kemandirian Indonesia dalam menghasilkan benih unggul, obat-obatan, serta pengembangan bioindustri nasional.

Di saat yang sama, lembaga tersebut mulai memperkuat riset teknologi kuantum sebagai bekal menghadapi era komputasi masa depan, termasuk untuk mendukung keamanan data dan sistem komunikasi berteknologi tinggi.

Tak hanya itu, BRIN juga terus mengembangkan teknologi antariksa sebagai bagian dari upaya memperkuat kemampuan nasional dalam pengawasan wilayah, mitigasi bencana, hingga pengelolaan sumber daya alam berbasis satelit.

Bangun Ekosistem Teknologi Nuklir Nasional

Pada sektor energi, BRIN memberikan perhatian khusus terhadap pengembangan teknologi nuklir. Menurut Arif, Indonesia perlu membangun ekosistem teknologi nuklir secara menyeluruh jauh sebelum pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) direalisasikan.

Pengembangan tersebut meliputi penguasaan teknologi dari hulu hingga hilir, mulai dari penambangan uranium dan torium, pemurnian bahan baku, fabrikasi bahan bakar nuklir, teknologi reaktor, sistem keselamatan, metrologi radiasi, hingga pengolahan limbah radioaktif.

"Kami berupaya menguasai seluruh rantai teknologi, mulai dari penambangan dan pemurnian uranium serta torium, fabrikasi bahan bakar, teknologi reaktor, keselamatan, metrologi radiasi, hingga pengolahan limbah," kata Arif.

Ia menegaskan, langkah tersebut bertujuan agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi ketika memasuki era pembangkit listrik tenaga nuklir, tetapi juga memiliki kemampuan mengembangkan teknologi secara mandiri.

"BRIN harus menyiapkan kemampuan teknologi nuklir sejak sekarang agar ketika Indonesia memutuskan memasuki era PLTN, kita tidak memulai sepenuhnya dari nol dan tidak hanya menjadi pembeli teknologi," tutupnya.(*)